Uncategorized

Sedjarah Djakarta (3)

Meester Cornelis dan kemunculan kampung etnis

Keberadaan Kampung Melayu di Batavia (Jakarta) hingga saat ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Meester Cornelis Senen. Ia adalah guru sekaligus pendeta Belanda yang membuka hutan di kawasan yang sekarang disebut Jatinegara. Perubahan nama dari Meester Cornelis menjadi Jatinegara dilakukan saat Jepang berkuasa pada 1942-1945. Namun, hingga saat ini masyarakat masih menyebut daerah itu Mester.

Wilayah itu dibangun oleh Meester Cornelis Senen, tokoh terkemuka dari Lontor, salah satu pulau di Kepulauan Banda, Maluku Utara. Dia datang ke Batavia pada 1656 lantas meminta izin pada Kongsi Dagang Belanda (VOC) untuk membeli sebidang kebun di pinggiran Kali Ciliwung. Ia terus memperluas tanahnya hingga menjadi permukiman disebut Meester Cornelis.

Saking luas dan penting, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Meester kota penyangga Batavia. Apalagi, lokasinya tidak jauh dari pusat pemerintahan di Batavia (Kota Lama) dan berada di bantaran sungai Ciliwung.

Rachmat Ruchiyat, penulis buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, mengakui Kampung Melayu memang tidak bisa dilepaskan dari pembangunan kawasan oleh Meester Cornelis. “Baru sekitar 1670-an, daerah itu sengaja digunakan oleh VOC untuk tempat tinggal pasukan keamanan bayaran dari berbagai tempat di Nusantara dengan berkelompok,” ujarnya saat dihubungi merdeka.com kemarin siang.

Menurut dia, sejak saat itu pasukan dari luar Batavia didatangkan, seperti dari tentara Melayu di Patani, Thailand Selatan, mendiami tempat disebut Kampung Melayu. Pasukan dari Bali menempati kawasan Bali Meester, sekarang Bukit Duri.

Pasukan Melayu saat itu dipimpin oleh kapten Wan Abdul Bagus. Mereka menerima perlakuan istimewa. Bahkan, kata Rachmat, Kapten Wan Abdul Bagus adalah juru bicara kepercayaan VOC buat berhubungan dengan sultan-sultan di Nusantara. Penempatan pasukan-pasukan itu dalam satu wilayah sangat beralasan. “Jika mereka akan makar terhadap VOC, mudah ditumpas,” ujar pria 80 tahun ini.

Adanya komunitas pasukan itu menghasilkan pembauran suku. Rachmat menjelaskan perkawinan antar suku mulai berlangsung pada pertengahan abad ke-18.

Pada 1949, Jatinegara tergabung dalam Kecamatan Pulogadung dan Kewedanaan Mataram. Terus pada 1960-an Meester yang masuk wilayah Bali Meester dan Kampung Melayu, dimasukkan ke dalam Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s