Uncategorized

Sedjarah Djakarta:Asal-Usul Nama Kota di Batavia (Jakarta)

Sebentar lagi setiap tanggal 22 Juni Propinsi DKI Jakarta selalu memperingati hari jadi nya dengan meriah. Tapi tahukah anda, sebenarnya nama-nama kota atau daerah yang ada di Jakarta mempunyai sejarah seperti Gambir, Lebak bulus, Pancoran, Glodok, Pasarminggu dan banyak lainnya. Nah, penulis coba menghimpunnya menjadi satu bacaan yang menarik dan mudah-mudahan bisa bermanfaat buat “kite” yang orang betawi…

Asal Usul Kata Betawi
Betawi merupakan sebutan lain untuk kota Jakarta dan sekaligus sebutan untuk
masyarakat pribumi yang berdiam di Jakarta Asal – usul penyebutan nama Betawi ini ada
beberapa versi.

Versi pertama menyebutkan bahwa nama Betawi berasal dari pelesetan nama
Batavia. Nama Batavia berasal dari nama yang diberikan oleh J.P Coen untuk kota yang
harus dibangunnya pada awal kekuasaan VOC di Jakarta. Kota Batavia yang dibangun
Coen itu sekarang disebut Kota atau Kota lama Jakarta. Karena asing bagi masyarakat
pribumi dengan kata Batavia, maka sering dibaca dengan Betawi.

Versi kedua menyebutkan bahwa nama Betawi mempunyai sastra lisan yang
berawal dari peristiwa sejarah yang bermula dari penyerangan Sultan Agung (Mataram)
ke Kota berbenteng , Batavia. Karena dikepung berhari – hari dan sudah kehabisan
amunisi, maka anak buah (serdadu) J.P. Coen terpaksa membuat peluru meriam dari
kotoran manusia Kotoran manusia yang ditembakkan kepasukan Mataram itu
mendatangkan bau yang tidak sedap, secara spontan pasukan Mataram yang umumnya
adalah orang Jawa berteriak menyebut mambu tai….., mambu tai. Kemudian dalam
percakapan sehari – hari sering disebut Kota Batavia dengan kota bau tai dan selanjutnya berubah dengan sebutan Betawi.

Versi Ketiga Betawi merupakan kosa kata Melayu Sambas (Kalimantan Barat) yang berarti Subang/Anting. Penduduk Melayu Sambas merupakan etnis dominan yang pada abad 10 menggeser kedudukan bahasa Sunda Kawi sebagai Lingua Franca.

Saat terjadi persaingan antara wong Melayu yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan wong Jawa yang tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Cina ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah timur mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya.

Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa.

Asal Usul Kota Gambir
Sekarang kampung Gambir tinggal kenangan saja, yang tersisa adalah nama Kelurahan Gambir dan nama Stasiun Gambir yang masih tertinggal pada salah satu stasiun yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Wilayah yang termasuk pada kawasan Gambir batas – batasnya adalah: diutara jalan Veteran, di Selatan jalan Kebon Sirih, di Barat jalan Mojopahit dan di Timur kali Ciliwung. Kata Gambir sudah dikenal sejak nama, sejak kawasan ini mulai mengacu pada sebutan masyarakat lokal yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh dikawasan ini. Sebelum dikembangkan oleh Daendles sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda di daerah baru yang disebutnya Weltevreden, sejarah kawasan ini telah dimulai sejak tahun 1658 masih berupa daerah rawa – rawa dan padang ilalang. Oleh pemiliknya yang bernama Anthony Paviljoen daerah ini telah mulai disewakan kepada masyarakat Cina untuk digarap sebagai lahan pertanian tebu, pertanian sayur – sayuran dan sawah. Setelah makin berkembang didaerah ini timbul pasar yang berlanjut terus sebagai pasar tempat
memeperingati hari lahir ratu Belanda yang di adakan pasar malam setiap tahun. Pasar yang tumbuh dan berkembang terus itu disebut pasar Gambir. Setelah Daendels berkuasa dan memindahkan pusat pemerintahan dari Kota ke Weltevreden yang dalam bahasa Belanda berarti tempat yang paling ideal sebagai lokasi pemukiman (tempat yang nyaman), maka Belanda mulai membangun berbagai macam sarana prasarana perkotaan di daerah baru ini. Salah satu sarana perkotaan yang terkenal pada waktu itu adalah lapangan koningsplein yang disebut juga oleh masyarakat lokal dengan nama lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Lapangan ini mengingatkan kita pada peristiwa rapat raksasa rakyat Jakarta yang terjadi dilapangan IKADA ini. Pada masa lalu, dilapangan ini terdapat perkumpulan olah raga dan yang paling terkenal adalah Bataviaasche Sport Club (BSC) dan Batavia Buitenzorg Wedloop Societet (BBWS). BSC adalah perkumpulan olahraga biasa dan BBWS adalah perkumpulan olah raga berkuda. Setelah pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai pada tahun 1962, Lapangan Gambir dan perumahan Departemen Pekerjaan Umum (DPU), serta perumahan Djawatan Kereta Api (DKA) ikut tergusur untuk ikut tergusur juga dan nama pasar tersebut diabadikan pada lokasi Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran. Yang tersisa dari kata Gambir untuk masa sekarang adalah nama stasiun Gambir dan nama Kelurahan Gambir.
Klik disini kalau lihat lanjutannya

Asal Usul Lebak Bulus
ok.. sekarang kita sudah sampai di lebak bulus…
inilah ceritanya :

Kawasan Lebak Bulus dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kleurahan Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama kawasan tersebut diambil dari kantor tanah dan fauna lebak berarti “lembah” dan bulus adalah “kura – kura yang hidup di darat dan air tawar”(Satjadibrata 1951:192, 56), jadi dapat disamakan dengan lembah kura- kura. Mungkin pada jaman dulu di Kali Grogoldan Kali Pesanggrahan yang mengalir di kawasan tersebut banyak kura – kura, alias bulus.

Berdasarkan Surat Kepemilikan Tanah (Erfbrief) yang dikeluarkan oleh yang berwenang di Batavia tertanggal 2 September 1675 kawasan Lebakbulus adalah milik Bapak Made dan Bapak Candra, yang dapat diwariskan. Menurut catatan harian di Kastil Batavia tertanggal 12 Februari 1687 Bapak Made adalah seorang Jawa berpangkat letnan. (Pada waktu itu setiap penduduk asli pulau Jawa disebut orang Jawa, tidak dibedakan sebutannya antara orang Jawa, Sunda dan Madura).Karena tanahnya sangat subur, kawasan itu oleh Bapak Made dibuka dijadikan sawah dan kebun, yang selanjutnya terpelihara dengan baik. Tetapi setelah dia meninggal pada tanggal 16 Agustus 1720, tanpa sebab yang jelas, seluruh tanahnya diambil kembali oleh Kompeni, untuk kemudian jatuh ke tangan orang Eropa, yang mengganti namanya menjadi Simplicitas (baca:
simplisitas) (De Haan, 1911: 167).

Sekitar tahun 1789 kawasan itu tercatat sebagai milik David Johannes Smith. Mungkin olehnya dijual kepada Pieter Welbeeck yang pada tahun 1803 tercatat sebagai pemiliknya (De Haan, 1910:103). Pada peta yang diterbitkan oleh Topograpisch Bureau tahun 1900, di bagian barat – daya kawasan itu masih tercantum lokasi rumah peristirahatan ( landhuis) bernama Simplicitas, tidak begitu jauh dari penggilingan padi yang terletak di tepi sebelah timur Kali Pesanggrahan.

Asal Usul Batu Ampar

Batu Ampar yang merupakan bagian dari kawasan Condet, bahkan biasa disebut
Condet Batuampar, dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Batuampar,
Kecamatan Keramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Wilayah kelurahan Batuampar di
sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kelurahan Balekambang, (lengkapnya Condet
Balekambang), yang dalam sejarahnya berkaitan satu sama lain.

Ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut sebagaimana diceritakan
oleh orang – orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul
Condet, sebagai berikut.

Pada jaman dulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai
Polong, memeliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi nama
Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh
Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur Condet,
untuk salah seorang anaknya, bernama Pangeran Astawana.

Supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang – senang di atas
empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. Permintaan itu

disanggupi dan terbukti, menurut sahibulhikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Cliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari dengan batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran
Tenggara .

Demikianlah, menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batuampar, dan bale (Balai) peristirahatan yang seolah – olah
mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat . Balekambang.

Pada awal abad keduapuluh di Batuampar terdapat perguruan silat yang
dipimpin antara lain oleh Maliki dan Modin (Pusponegoro, 1984, IV:295). Pada tahun
1986, seorang guru silat di Batuampar, Saaman, terpilih sebagai salah seorang tenaga
pengajar ilmu bela diri itu di Negeri Belanda, selama dua tahun. Tidak mustahil,
kemahiran Saaman sebagai pesilat, sehingga terpilih menjadi pengajar di mancanegara
itu, adalah kemahiran turun – temurun.

Sampe sini dulu, masih banyak ceritenye, jadi tetep tunggu ceritenya enyak, engkong, encang-encing!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s