Uncategorized


NUR MOH AHADI – Pemerintah diminta untuk memperhatikan posisi guru honorer sebagai pendidik terutama dalam hal pemberian gaji.
Ketua Umum PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo mengatakan, sesuai dengan Pasal 39 UU Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan yang wajar. PGRI menemukan, banyak guru non PNS yang bekerja penuh waktu dari Senin sampai dengan Sabtu, hanya memperoleh penghasilan Rp200 ribu per bulan.
”Itu pelecehan profesi guru. Memang banyak guru yang sangat tulus mengabdi berapa pun honor yang diterima. Tetapi, itu tidak manusiawi dan sangat tidak layak, dibandingkan dengan kebutuhannya sebagai manusia, apalagi sudah berkeluarga dan harus menyekolahkan anaknya,” kata Sulistyo di Jakarta, kemarin.
Sejalan dengan itu, PGRI sudah mengusulkan kepada pemerintah agar segera menetapkan penghasilan minimal guru honorer yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) tentang pegawai tidak tetap. Usul itu, ujarnya, sekaligus mengurangi keinginan semua orang menjadi pegawai negeri.
Pernyataan Sulistiyo tersebut menanggapi penahanan Vini Noviani, guru honorer SDN Regol XIIII Kiansantang, Garut, karena pasal penganiayaan dengan ancaman dua tahun delapan bulan penjara. Cerita bermula ketika cicilan rumah guru Bahasa Inggris ini dibayar lunas Hehe Samyudin selaku pengembang Perum Balai Kambang. Karenanya, Hehe meminta Yadi, suami Vini membayar bunga atas pelunasan yang dia lakukan sebesar Rp3,5 juta per bulan.
Pada 6 Juni 2011,terjadi pertengkaran antara Vini dan Hehe yang datang melakukan penagihan. Hehe yang emosi mendorong Vini hingga terjatuh. Tidak terima mendapat perlakuan kasar, Vini yang berada dalam posisi tersungkur, kemudian mengambil kerikil dan spontan melemparkannya ke Hehe. Perselisihan itu pun dibawa ke ranah pengadilan.
Sulistiyo melihat, kasus itu terjadi karena masalah kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang tidak kunjung diperhatikan. Padahal Hari Guru Internasional yang ditetapkan pada 5 Oktober 1966, pada saat berakhirnya pertemuan Internasional di Swiss yang melahirkan Status Guru, Indonesia juga sudah meratifikasinya. ”Banyak rekomendasi dalam status guru itu yang belum dilakukan pemerintah, terutama hak-hak guru dan pembinaan profesionalnya,” ungkapnya.
Koordinator Pusat Federasi Guru Swasta Indonesia (FGSI) Muhammad Fatah Yasin menyatakan, serikat organisasi guru se-dunia (Education International/EI) pada peringatan Hari Guru Sedunia tahun 2007 menyerukan kepada seluruh pemerintahan di dunia bahwa memperbaiki kondisi kerja guru sama artinya dengan memperbaiki kondisi belajar anak. Oleh karena itu, jika negara, dalam hal ini pemerintah tidak melakukan perbaikan terhadap kondisi kerja guru, maka berarti pemerintah mengabaikan hak-hak anak untuk memperoleh kondisi belajarnya yang terbaik.
Yasin menjelaskan, kondisi kerja tidak saja meliputi hak-hak dasar guru yang mesti terpenuhi tetapi juga termasuk di dalamnya lingkungan kerja yang kondusif, sehat, aman yang dapat secara langsung berdampak pada penyelenggaraan pembelajaran yang terbaik bagi anak-anak didik. “Akan tetapi sepanjang perjalanan sejarah sebelum kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan RI, sampai saat ini para guru belum memperoleh kondisi kerja yang terbaik sesuai dengan amanat konstitusi,” sesalnya.
Anggota Komisi X DPR Hetifah Sjiafudian juga meminta, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP dan PMP) Kementerian Pendidikan Nasional mengawal peningkatan kesejahteraan guru honorer. Apalagi pada 2012 ini badan yang baru saja terbentuk itu meminta anggaran hingga Rp3,4 triliun. “Saya sangat menyesalkan kasus yang menimpa Ibu Vivi ini. Semoga ada keadilan bagi dia. Ini merupakan potret buruk guru di Indonesia yang kesejahteraanya jauh dari memadai,” lugasnya.(Neneng Zubaidah/Koran SI/rhs)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s